Kompas: Ketidakpastian Ekonomi, Lemahkan Gairah Otomotif ASEAN

Share This Page

Read the original article here.

Singapura, KompasOtomotif – Meski tidak seluruh wilayah ASEAN mengalami penurunan dalam bisnis otomotif, namun kondisi pasar tiga pemain besar seperti Thailand, Indonesia dan Malaysia, cukup menggambarkan iklim bisnis di kawasan ini.

Mohit Arora, Vice President, JD Power Asia Pacific, dalam siaran resmi yang diterima KompasOtomotif, Senin (29/5/2016), mengatakan, tiga pilar industri otomotif ASEAN tersebut, sedang menghadapi kondisi ekonomi yang sulit, yang tumbuh dengan lamban. Ini berdampak pada menurunnya sentimen pasar, menyusutnya volume penjualan dan berujung pada susutnya utilitas produksi.

“Kami menduga masyarakat menahan mobilnya dalam waktu yang cukup lama, dan berupaya untuk menghabiskan dananya dengan bijaksana, terkait dengan pemeliharaan dan kebutuhan perbaikan,” ujar Mohit.

Kondisi Indonesia

Mohit mengatakan, untuk penjualan kendaraan komersial ringan di Indonesia menurun sebesar 9 persen sepanjang Januari 2016 di bandingkan periode yang sama 2015. Ini karena turunnya harga komoditas dan pengurangan ekspor ke China.

Penyebab penurunan pasar, salah satunya juga ada kontriubusi dari pemerintah Indonesia dengan mengurangi subsidi bensin, menyebabkan harga meningkat dari Rp 4.500 menjadi Rp 7.400 per liter. Ketika biaya transportasi naik, membuat harga barang pokok juga ikut naik. Ini membuat masyarakat lebih memilih untuk membelanjakan uangnya kepada sektor ini.

Pasar Malaysia

Januari 2016, pasar otomotif Malaysia turun dua digit sebesar 12 persen, dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year). Ini karena nilai mata uang ringgit mengalami depresiasi cukup dalam, sehingga produsen menghadapi beban dalam biaya produksi. Produsen sempat mengumumkan kalau akan ada kenaikan harga pada Januari 2016.

Efeknya cukup signifikan, penjualan mobil kecil di Malaysia melonjak 85 persen dari tahun 2015. Ini karena konsumen memilih untuk berhemat, dengan menurunkan ukuran mobil lebih kecil dan murah, untuk mengimbangi peningkatan biaya hidup dan kondisi ekonomi yang suram.

Thailand

Thailand menderita penurunan terbesar, sampai 14 persen, pada bulan pertama 2016 dibanding tahun lalu (year on year). Pada Februari 2016, Dewan Ekonomi dan Pembangunan Sosial Nasional Thailand, telah menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB 2016 dari proyeksi 3,0-4,0 persen menjadi 2,8 -3,8 persen.  Ini lantaran lemahnya prospek perdagangan dan risiko perlambatan global.

Indeks Keyakinan Konsumen (The Consumer Confidence Index) 2016 di Thailand juga turun, sudah berlangsung dalam dua bulan berturut-turut sampai Februari. Penetapan cukai baru oleh pemerintah, kemudian tentang emisi CO2 dari kendaraan, efisiensi bahan bakar dan kompatibilitas E85 (kandungan etanol 85 persen), telah menaikkan harga mobil sekitar 5 persen.

Tentu ini akan membuat konsumen sedikit mengerem melakukan pembelian. Baru-baru ini saja, laporan dari pameran otomotif di Thailand bahwa pemesanan mobil di bawah target yang diharapkan.